Tangan Ikhlas Sang Penolong Urat di Balangan, Dibalas Atap Kokoh Rezeki Tak Terduga

PARINGIN (eMKa) – Di sudut sunyi Paringin, Kabupaten Balangan, terdapat sebuah kontras yang menenangkan. Sebuah rumah kecil, yang baru saja berdiri kokoh dan memancarkan kehangatan, menjadi saksi bisu kisah nenek Saniah (70), seorang janda penolong banyak orang, yang kini dibalas kebaikan dalam wujud hunian layak.

Sore itu, Kamis (19/11/2025), saya diiringi Ka Dewi, Ketua Sahabat Balangan Center (SBC), kami tiba di kediaman nenek Saniah. Senyum menyambut dari wanita tua itu tak lekang, meski kerutan di wajahnya adalah goresan sejarah panjang perjuangan hidup. Di balik senyum itu, tersimpan kisah keteguhan, ditempa oleh garapan dan kesediaan untuk menerima takdir.

Saya melihat kerutan di wajah nenek Saniah. Kerutan itu adalah goresan sejarah panjang. Namun, bukan kelemahan yang saya lihat, melainkan kekuatan, karna saya tahu suami nenek Saniah telah lama berpulang. Ia kini adalah pilar utama bagi cucu dan dua anaknya yang juga janda.

“Saya ini hanya seorang tua yang tak punya apa-apa untuk memiliki hunian layak,” ujar beliau, matanya menatap lekat, seolah menutupi keadaannya dihadapan kami.

Meminta waktu beliau, kami duduk di kursi kayu yang kini terasa lebih stabil di terasnya, nenek Saniah tersenyum. Senyum lega, yang mungkin menahan air mata syukur.

“Alhamdulillah, rumah ini diperbaiki, saya senang sekali. Banyak yang diganti dan sekarang jauh lebih nyaman. Saya bersyukur dan senang sekali,” katanya dengan nada tulus.

Sempat kami bertanya warga sekitar tentang nenek Saniah, rupanya nenek Saniah memiliki mata pencaharian dan keahlian memijat, warisan yang diterimanya secara turun-temurun. Dari jasa pijat itulah nenek Saniah membeli makanan sehari-hari.

“Saya merasa berterima kasih, rumah saya sudah diperbaiki perusahaan,” ucap Saniah. Bagi beliau, perbaikan ini mustahil terwujud jika mengandalkan upah memijat yang hanya cukup untuk membeli lauk.

Tanpa sadar, mata saya mencermati kedua tangannya terlihat tangan yang penuh pengalaman, tangan yang telah menjadi penolong bagi banyak orang.

Hidup dalam keterbatasan tak menjadikannya risau. Justru di balik dinding rumah lamanya yang kini kokoh, ia menjadi tumpuan bagi orang lain. Kemampuan pijatnya tak main-main,  banyak yang terbantu dalam penyembuhan keluhan urat terkilir (‘tasilahu’) atau tulang bergeser (‘talimbah’).

“Tiap hari selalu ada yang minta tolong. Ada yang ‘tasilahu’ urat, ada juga yang ‘talimbah’ tulang. Ada juga yang sekadar capek,” jelas Saniah.

Di tengah obrolan kami, tiba-tiba hujan turun deras. Saya menoleh ke arah ‘banturan’ area teras luar. Di sana, sepasang suami istri sudah duduk menanti giliran, tak gentar menunggu di tengah hujan demi sentuhan Nenek Saniah. Fenomena ini menegaskan betapa berharganya beliau bagi masyarakat sekitar.

Rupanya, jalan nenek Saniah menjadi tukang urut bukanlah kemauan pribadi. Beliau bercerita bahwa pada suatu malam, didatangi sepasang suami istri dalam mimpi yang memintanya meneruskan keahlian memijat leluhur.

“Saya sempat menolak,” kenang beliau, sambil menggeleng pelan. Ia menolak permintaan membidani, dan menolak keluhan urat terkilir. Dan di situlah, keajaiban sekaligus hukuman datang, kedua tangannya mendadak bengkak dan tak bisa digerakkan.

Saya mendengarkan kisahnya dengan takjub. Dalam perenungannya, barulah ia teringat pesan dalam mimpi itu. Dengan hati yang membatin dan bersedia, ia mulai melayani orang yang meminta tolong dengan tulus.

“Ketika itulah keikhlasan menjadi obat bagi tangan saya,” kata nenek Saniah.

Bengkak itu pun sirna, tersembuhkan sendirinya. Saya menyadari, rumah yang kokoh ini adalah pahala atas keikhlasan itu.

Rumah beliau menjadi satu diantara 26 rumah yang didata Komunitas Balangan Center (SBC) dan layak dibedah oleh Adaro Group.

Ka Dewi yang mendampingi saya yang juga Ketua Sahabat Balangan Center (SBC) yang kebetulan menjadi penghubung program, mengatakan kepada saya betapa berharganya inisiatif ini bagi masyarakat.

“Kami sangat berterima kasih kepada PT Adaro Indonesia dan semua pihak yang telah membantu kami. Semoga program ini dapat terus berlanjut dan memberikan manfaat yang lebih besar.”ungkapnya bangga.

Total 15 desa menjadi penerima manfaat program ini, mencakup kawasan: Dahai, Lasung Batu, Paringin Timur, Batu Piring, Murung Ilung, Balang, Lamida Bawah, Paran, Marias, Sirap, Galumbang, Bata, Lalayau, Gunung Riyut, dan Liyu.

Program ini sinergi Adaro Group dengan Pemda Balangan dalam memangkas kesenjangan. Pelaksanaanya didasarkan pada penerima manfaat agar betul-betul jadi manfaat dan amal jariah bagi yang menjadikan kebijakan ini hadir.

Melangkah keluar dari rumah nenek Saniah, saya membawa sebuah pelajaran berharga yakni Kehidupan dapat sangat keras, tetapi keikhlasan dan kemampuan menolong sesama akan selalu kembali dalam wujud rezeki yang tak terduga, seperti dinding dan atap baru yang menjadi penanda Kasih Tuhan bagi nenek Saniah di usia senjanya. (hindri).


Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *